TANGAN KOSONG
Buka jemari dan pandanglah telapak ini,
tak ada buah tangan yang sempat terikat manis,
tak ada bingkisan, cenderamata, atau piala yang tersisa.
Hanya ruang hampa di hadapan mata yang menanti,
sebuah kehampaan jujur tanpa selubung kado dan ucapan terima kasih,
meninggalkan jeda sunyi di antara ruas-ruas tulang.
Namun saat jemari itu mengepal rapai,
ia menjelma hantaman tanpa butuh kilatan pedang,
terjangan murni dari kulit, tulang, dan gelora tekad yang lugas.
Tanpa mantra, tanpa tumpuan senjata atau tenaga rahasia,
ia menghentak udara, meretakkan dinding keraguan,
membuktikan bahwa daya paling keras bisa bersumber dari ketiadaan.
Lalu senja memaksa langkah untuk berbalik arah,
menelusuri jalan pulang yang terasa kian panjang.
Telapak yang sama kini kembali tanpa membawa hasil,
tenggelam dalam standar yang melayang jauh di atas gapaian,
tumbuh dari ekspektasi yang gugur sebelum sempat mekar.
Pulang dalam kekalahan, tanpa pemenuhan, tanpa tangkapan.
Tangan kosong ini—ia tidak memegang apa-apa,
mampu melayangkan pukulan paling tajam ke muka dunia,
namun terasa paling berat ketika dipaksa merangkul rasa kecewa.
No comments:
Post a Comment