Mengunyah Sunyi, Mengeja Langkah
Ada masa di mana dunia bergerak terlalu bising, sementara jiwa dipaksa meraba dalam remang. Ketika tanya demi tanya mulai berdatangan mengetuk pintu kesadaran, kita sering kali mendapati diri berdiri di persimpangan yang kabur, menanti sebuah jawaban yang tak kunjung tunai. Ditulis dalam debar dan desah resah, berikut adalah selembar catatan tentang perjalanan rasa yang mencari arah.
Seiring waktu berjalan, semakin banyak suara yang datang menanyakan keadaan. Pertanyaan-pertanyaan itu bermula dari dirinya sendiri yang mulai didera kelelahan, lalu merembet pada orang-orang di sekitarnya—apakah mereka juga merasakan hal yang sama? Segala rasa kini berkubang menjadi satu dalam kejenuhan yang pekat.
Pandangan kian mengabur tatkala intensitas cahaya perlahan surut memasuki pengurangan. Di kawasan yang kerap dipenuhi asap-asap pemujaan itu, misteri dalamnya perasaan kian mendekat, menyelubungi erat setiap jengkal kerentaan yang kian nyata. Ada perlawanan yang sunyi untuk tetap melangkah di dalam ruang-ruang yang kian mendekati kegelapan. Ia menggumuli rasa ingin tahu dengan bola mata yang dibelalakkan, berharap ada sekecil berkas cahaya yang sudi menjadi penanda jalan.
Langkah-langkah kaki yang awalnya terdengar penuh gairah, kini kian melemah. Begitu lirih, tersirat hembusan napas yang berbaur dengan resah. Bisik hati kecilnya menyelinap: “Masihkah semua ini sebuah langkah? Tidakkah aku sedang salah mengarah?”
Pelan, namun belum menemukan kata pasti. Jemarinya menjulur, perlahan meraba lembar demi lembar kehidupan yang dijabarkan dalam debar harap. Berharap lembaran itu bisa menjadi panduan, meski segalanya terasa sulit disamakan dengan kesepakatan-kesepakatan yang ada. Penyangga yang harusnya bercerita apa adanya tentang kekuatan penopangan, kini terasa berbeda. Jari-jemarinya justru melewati sisi-sisi yang berlubang—sebuah permukaan yang menggambarkan kerangka kerapuhan, bukan lagi kekuatan tempat berhimpunnya rasa aman.
Bilakah harus ada penggantian jika keadaan terus begini? Hingga kelak, kepastian akan apa yang teraba akan kian tampak. Ke mana lagi langkah harus dibawa jika kita memalingkan cara dari semesta? Padahal, semesta pasti telah menyediakan jawaban sebagai penyeimbang, karena keadilan milik-Nya tak akan pernah kehabisan cara.
Pemutakhiran penjagaan seolah telah memalingkan jangkauan pandangan kita. Lihatlah luasnya hamparan air asin itu, tempat perenang-perenang kecil dikeruk hingga bertumpuk, dipaksa tunduk pada jubah pengganyang nasi aking yang digetarkan oleh rasa lapar. Mereka melahap apa saja atas nama keadaan. Semua orang hanya bisa menyayangkan, tanpa ada narasi yang mampu didengar lagi. Semua ucapan terbungkam, terkubur oleh sunyinya wilayah yang seolah mati, digilas suara gigi-gigi yang gemeretak mengeras beriring riuhnya hentakan kaki yang datang serentak.
Namun, jawaban yang diterima masih saja sama ketika ditanya "kapan?". Semuanya masih berarti "kelak". Sayang seribu sayang, selalu terselip elakan manis berupa cara antik dalam menuang pesan—sebuah pilihan yang sengaja mendekatkan kejauhan. Pinang akan maksud itu tersimpan dalam isinya yang memuat harapan kecil; sebuah lukisan keadaan di luar segala hiruk-pikuk yang telah bertebaran.
Kunyahan di mulutnya, juga kata-kata yang meluncur darinya, terasa begitu lekat dengan cerita kehancuran bukit-bukit kapur yang pernah ia singgahi. Kini, tanpa tujuan yang pasti, ia termenung. Jari-jemarinya bergerak pelan melukis bentuk daun-daun kecil πΏπ. Apa yang merambati hati kecil dan benaknya kini tak perlu lagi dijejali sesal. Ia hanya menyaksikan, betapa banyak penghuni yang telah pergi dari sana. Ludah tertelan dan tak akan kembali, menyisakan kuncup tanya yang baru: di mana semua ini harus memulai langkahnya lagi?
Pada akhirnya, setiap perjalanan selalu menyisakan ruang untuk merenung. Kehancuran bukit kapur atau runtuhnya rasa aman bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik mula bagi jemari kita untuk melukis harapan yang baru. Di ujung kesunyian ini, pertanyaan tentang di mana harus memulai langkah lagi bukanlah sebuah keputusasaan, melainkan sebuah undangan terbuka dari semesta untuk kembali berjalan.